Candi Bajang Ratu

Posted by dephi in wisata mojokerto on September 24th, 2010 |  No Comments »

Gapura yang berbentuk PADU RAKSA ini mempunyai tiga bagian : kaki, tubuh, dan atap. Mempunyai sayap dan pagar tembok di kedua sisinya. Ada hiasan pada bagian atap berupa Kepala Kala diapit Singa. Relief Matahari, Naga berkaki, Kepala Garuda, dan Relief bermata satu. Di bagian kaki menggambarkan cerita Sri Tanjung mempunyai fungsi sebagai pelindung atau penolak marabahaya dan pada sayap kanan dihiasi relief cerita Ramayana. Kanan kiri pintu diberi pahatan berupa binatang bertelinga panjang. Gapura ini ada hubungannya dengan Raja Jayanegara. Gapura Bajangratu dibangun dari bata yang direkatkan satu sama lainnya degan sistem gosok, kecuali pada ambang pintu dan anak tangga terbuat dari batu andesit. Denah bangunan berbentuk empat persegi panjang berukuran panjang 11,5 m, lebar 10,5 m. Tinggi bangunan 16,5 m dan lorong pintu masuk lebarnya 1,4 m. Lokasinya berada du Dukuh Kraton, Desa Temon, Kecamatan Trowulan.
Bajang Ratu Temple
The gate whose shape is PADUKARAKSA gate has three part: foot, body and roof. It has wing and the wall fence in its both side. This decorated by the relief. In the root part are Kala head between Lion, Sun, Snake with foot part describe the story of Sri Tanjung. It has function as the protection of the danger. In the right wing is decorated the relief of Ramayana story. In the right and the left door is carved animal with long ear. This gate was as the entrance gate to the holy building. This gate has relation with Jayanegara King. Its located at Kraton, Temon, Trowulan, Mojokerto regency.

Artikel Sumber: Mengenal Peninggalan majapahit di daerah Trowulan, karya Drs I.G. Bagus L Arnawa

Mengutif dari buku Drs I.G. Bagus L Arnawa, dilihat dari bentuknya gapura atau candi ini merupakan bangunan pintu gerbang tipe “paduraksa” yaitu gapura yang memiliki atap. Secara keseluruhan candi ini terbuat dari Batu Bata Merah, kecuali lantai tangga serta ambang pintu yang dibuat dari batu andesit. Bangunan ini berukuran panjang 11,5 m dan lebar 10,5 m, tingginya 16,5 m dan lebar lorong pintu masuk 1,4 m.

Sejenak bila kita melihat candi ini, secara vertikal dapat dibagi tiga bagian yaitu kaki, tubuh, dan atap. Selain itu gapura mempunyai sayap dan pagar tembok di kedua sisinya. Pada bagian kaki gapura ada hiasan yang mengambarkan cerita “Sri Tanjung”, di bagian tubuh diatas ambang pintu ada hiasan kala dengan hiasan sulur suluran, dan bagian atapnya terdapat hiasan berupa kepala kala diapit singa, relief matahari, naga berkaki, kepala garuda, dan reliaef bermata satu atau monocle cyclops. Fungsi relief sebagai pelindung dan penolak mara bahaya. Pada sayap kanan ada relief cerita ramayana dan pahatan binatang bertelinga panjang.

Candi Bajangratu diduga sebagai pintu masuk ke sebuah bangunan suci untuk memperingati wafatnya Raja Jayanegara pada tahun Saka 1250 atau tahun 1328 Masehi. Bajangratu sendiri dalam bahasa jawa kuno berarti kecil, naik tahta menjadi raja waktu masih kecil, dan konon itu terjadi pada Raja Jayanegara.

Pendirian Candi Bajangratu sendiri tidak diketahui dengan pasti, namun berdasarkan relief yang terdapat di bangunan, diperkirakan candi ini dibangun pada abad 13 – 14, dan selesai dipugar pada tahun 1992.

Lokasi berdirinya Candi Bajangratu ini letaknya relatif jauh (2 km) dari dari pusat kanal perairan Majapahit di sebelah timur,saat ini berada di dusun Kraton, desa Temon 0,7 km dekat dari candi Tikus. Alasan pemilihan lokasi ini, mungkin untuk memperoleh ketenangan dan kedekatan dengan alam namun masih terkontrol, yakni dengan bukti adanya kanal melintang di sebelah depan candi berjarak kurang lebih 200 meter yg langsung menuju bagian tengah sistem kanal Majapahit, menunjukkan hubungan erat dengan daerah pusat kota Majapahit.

Keberadaan candi ini juga tak lepas dari sebuah kepercayaan yang masih melekat dibenak masyarakat setempat. Adalah suatu pamali bagi seorang pejabat pemerintahan untuk melintasi atau memasuki pintu gerbang Candi Bajangratu ini, karena dipercayai hal tersebut bisa memberikan nasib buruk. Boleh percaya atau tidak, namun mungkin ada baiknya untuk dicoba.

Sumber : Dinas Pariwisata Kabupaten Mojokerto

Profil SMAN 1 MOJOSARI

Posted by dephi in sman mojokerto on September 23rd, 2010 |  No Comments »

SMA Negeri 1 Mojosari adalah sebuah SMA Negeri yang didirikan pada tahun 1981, yang terletak di wilayah Kabupaten Mojokerto Jawa Timur, tepatnya di Jl. Pemuda no. 55 desa Seduri Kecamatan Mojosari kabupaten Mojokerto propinsi Jawa Timur. Berikut ini data Identitas Sekolah:

Nomer Statistik Sekolah : 30 10 50 30 90 60 , NPSN : 20 50 27 24

  1. Nama Sekolah : SMA NEGERI 1 MOJOSARI
  2. Alamat : Jl. Pemuda No. 55 Seduri, Mojosari, Mojokerto, Jawa Timur.
  3. Kode Pos : 61382
  4. Telpon : 0321 591457
  5. E-mail : sman1_mojosari@yahoo.co.id
  6. Sekolah Dibuka Tahun : 1981
  7. Status Sekolah : Negeri
  8. Klasifikasi Sekolah : Mandiri
  9. Waktu Penyelenggaraan : Pagi
  10. SK Terakhir Status Sekolah : No. 421/0285/416.114.05/2004 tgl. 18 Pebruari 2004
  11. Keterangan SK : Perubahan Lama.

SMA NEGERI 1 MOJOSARI dibangun diatas lahan seluas 14.550 m2, luas bangunan : 3.866 m2, luas halaman : 3.741 m2, luas lap. olahraga 5.000 m2, lain-lain : 1.943 m2 terdiri dari 26 ruang kelas, 21 ruang pendukung belajar mengajar.

Visi dan Misi SMAN 1 Mojosari

Visi: Melaksanakan pendidikan dan pengembangan sekolah guna menciptakan Sumber Daya Manusia (SDM) yang Humanis, Apresiatif, Profesional, Potensi, dan Yakin ( H A P P Y ).

Misi :

  1. Menciptakan lingkungan pembelajaran yang kondusif, efektif dan inofatif dalam upaya meningkatkan mutu pembelajaran.
  2. Menumbuhkan kembangkan semangat keunggulan apresiatif dan bernalar sehat kepada para peserta didik, guru dan karyawan sehingga berkemauan kuat untuk terus maju.
  3. Mengembangkan layanan profesional dan semangat kerja dan keteladanan guna meningkatkan prestasi kerja dan prestasi belajar peserta didik.
  4. 4. Menanamkan peserta didik, sikap ulet dan gigih dalam berkompetensi, beradabtasi dengan lingkungan dan mengembangkan sikap sportifitas.
  5. 5. Membina peserta didik berkepribadian, percaya diri dan berbudi pekerti luhur sehingga menjadi kebanggaan masyarakat.


mojokerto.web.id

Sejarah SMAN 1 GONDANG

Posted by dephi in sman mojokerto on September 23rd, 2010 |  No Comments »

Sejarah Singkat SMAN 1 Gondang

Sekolah sebagai suatu lembaga pendidikan formal memiliki kedudukan yang sangat penting di dalam upaya mendukung proses peningkatan Sumber Daya Manusia yang berkualitas, dalam arti memiliki daya saing komprehensip bagi terciptanya kondisi di mana cukup tersedia tenaga cakap, terampil dan memiliki kemampuaan disiplin ilmu yang mapan. Dengan demikiaan sekolah sebagai suatu lembaga pendidikan formal di tuntut mampu dan mau berkompetisi sehat merebut pangsa pasar dalam pengertiaan image masyarakat sekitar akan tersedianya suatu lembaga pendidikan berkualitas.

Pada dasarnya insan pendidikan akan selalu terkenang dengan kejayaan Kerajaan Mojopahit tempo dulu bila mendengar kota onde – onde Mojokerto dan di bagian selatan kota inilah SMA Negeri 1 Gondang berdiri. Tepatnya berada pada jalur wisata Mojokerto-Pacet-Trawas yang memiliki keunggulan Sumber Daya Alam yang asri, rindang, sejuk dan indah dengan hamparan sawah dan perbukitan yang mengelilingi.

Keberadaan SMA Negeri 1 Gondang pada awalnya (1986/1987) merupakan binaan SMA N 1 Sooko dengan rombongan belajar 3 kelas di pimpin oleh Bapak Soepardi, BA sangat strategis sebagai wadah pendidikan formal bagi lulusan SMP/MTs atau sederajat se wilayah kawedanan Jabung dan sekitarnya SMA Negeri 1 Gondang Kabupaten Mojokerto sebagai bagiaan integral dari lembaga pendidikan formal memiliki keterkaitan fungsi di dalam usaha penyediaan SDM yang berkualitas bagi kesinambungan proses akulturasi pembangunan nasional yang berdiri berdasar Surat Keputusan MenDikbud RI. Nomor: 0887/O/1986 tanggal 22 Desember 1986 menempati tanah seluas 1, 15 Ha berada di desa Pugeran, Kecamatan Gondang tepatnya Jalan Raya Pugeran No. 61 Telp.(0321) 510314 Kabupaten Mojokerto. Dengan dukungan moril dan meteriil dari orang tua wali (Komite Sekolah), Masyarakat, Instansi/ Lembaga serta unsur terkait pemerhati pendidikan, SMA Negeri 1 Gondang telah mampu menunjukkan jati dirinya sebagai suatu lembaga pendidikan yang mampu berkompetensi di dalam upaya melaksanakan membina, mengarahkan dan membekali siswa dengan Iptek dan Imtaq yang mumpuni.
Berbagai upaya nyata SMA Negeri 1 Gondang di dalam mewujudkan tersedianya lembaga pendidikan yang profesional berkualitas memiliki rambu – rambu yang tersirat dalam Visi SMA Negeri 1 Gondang sebagai berikut :

Berbudi luhur, berkualitas, mandiri, berjiwa wirausaha, dan bertanggung jawab mengembangan amanat pendidikan nasional.

Dimana tingkat keberhasilannya dapat di korelasikan dengan indikator sebagai berikut :

  1. Santun dan ramah dalam berkata, berperilaku dan bersikap.
  2. Santun dan hormat pada guru atau karyawan
  3. Unggul dalam perolehan Out put.
  4. Unggul dalam kecakapan bekal wirausaha.
  5. Unggul dalam kreativitas seni budaya.
  6. Unggul dalam budaya tertib dan disiplin ( etos kerja)

Kekuatan/keunggulan sekolah ( S = Strength ) :

  1. Letak strategis sebagai satu-satunya SMA Negeri di wilayah selatan Kabupaten Mojokerto.
  2. SDA dan beberapa potensi lingkungan sekitar al : suhu, struktur tanah.
  3. Spesifikasi dan latar belakang ilmu pengetahuan tenaga edukatif dan administratif memadai. ( Strata 2 dan Strata 1 ), dan telah mengikuti penataran sbb : 7 tingkat nasional, 17 tingkat propinsi, 18 tingkat kabupaten.
  4. Sumber daya alam yang asri, nyaman, sejuk dan indah di lintas wisata Mojopahit (Pacet, Trawas, Jolotundo), tersedia sumber air bersih yang sehat.
  5. Input menyebar se Kawedanan Jabung meliputi 5 Kecamatan Kabupaten Mojokerto.
  6. Animo masyarakat yang tinggi terhadap keberadaan sekolah, hal ini nampak dari peningkatan jumlah pendaftar setiap tahun saat PSB.

VISI dan MISI SMA NEGERI 1 GONDANG

Visi sekolah : Berbudi luhur, berkualitas, mandiri berjiwa wirausaha dan bertanggung jawab
mengemban amanat pendidikan nasional.

Indikator :

  1. Santun dan ramah dalam berkata, berperilaku / bersikap.
  2. Santun dan hormat pada guru/karyawan.
  3. Unggul dalam perolehan NEM out put.
  4. Unggul dalam kecakapan bekal wira usaha.
  5. Unggul dalam kreatifitas seni budaya.
  6. Unggul dalam budaya tertib dan disiplin (etos kerja).

Misi Sekolah :

  1. Menumbuhkembangkan penghayatan terhadap ajaran agama yang dianut dan juga budaya bangsa sehingga menjadi sumber kearifan di dalam bertindak dan berpijak sebagai aplikasi budi pekerti luhur.
  2. Memaksimalkan minat para lulusan SMP/MTs Negeri/Swasta wilayah selatan Mojokerto guna memilih SMA Negeri 1 Gondang sebagai jenjang pendidikan selanjutnya.
  3. Memaksimalkan Out Put SMA Negeri 1 Gondang dengan kualitas/prestasi NUN yang tinggi diiringi dengan minat yang tinggi guna melanjutkan pada jalur Pendidikan Tinggi.
  4. Meningkatkan peran serta orang tua/wali siswa, masyarakat dan instansi terkait di dalam usaha pencegahan siswa putus sekolah, dengan senantiasa memberikan pembinaan secara kontinu melalui upaya pembinaan intra dan ekstra kurikuler.
  5. Melaksanakan pembelajaran dan bimbingan secara efektif, sehingga setiap siswa mengalami perkembangan optimal sesuai dengan potensi yang dimiliki mengacu pada peningkatan iptek dan kecakapan wirausaha yang berwawasan lingkungan.

mojokerto.web.id

Sejarah SMAN 1 NGORO

Posted by dephi in sman mojokerto on September 23rd, 2010 |  No Comments »

SMA Negeri 1 Ngoro sebagai sebuah UPT yang telah berdiri sejak Juli 1999 berdasarkan SK Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan RI Nomor : 291/O/1999 tentang Pembukaan dan penegerian Sekolah tahun 1998/1999, merupakan sebuah lembaga pendidikan yang berada di kawasan desa Kutogirang Kecamatan Ngoro kabupaten Mojokerto, dimana keberadaannya

pendidikan di jenjang yang lebih tinggi ( ke Perguruan Tinggi ) dan mempersiapkan peserta didik untuk memasuki ke dunia kerja bagi siswa yang tidak melanjutkan, disamping itu juga yang tidak kalah pentingnya turut mencerdaskan anak bangsa sebagaimana diamanatkan dalam Pembukaan UUD 1945 alinea IV yang dalam wujud nyata turut secara aktif meningkatkan mutu pendidikan.
Sedangkan gedung SMA Negeri 1 Ngoro ditempati tepatnya tanggal 09 September 1999, yang juga ditetapkan sebagai hari ulang tahun SMA Negeri 1 Ngoro

sman1ngoromjk.blogspot.com

Sejarah SMAN 1 PURI

Posted by dephi in sman mojokerto on September 23rd, 2010 |  No Comments »

Sejarah Singkat SMAN 1 Puri
SMA Negeri 1 Puri Mojokerto mempunyai sejarah yang cukup panjang, sebab merupakan cikal bakal adanya Sekolah Menengah Umum Tingkat Atas di Kabupaten dan Kotamadya Mojokerto.
Tahun 1960 di Wilayah Kabupaten dan Kotamadya Mojokerto hanya terdapat satu SMA Negeri yang lazim disebut orang sebagai SMA Negeri Mojokerto. SMA ini menempati gedung Pemerintah Daerah Kabupaten Mojokerto yang bernama Gedung Bhinneka Tunggal Ika, sebelah timur alun-alun Mojokerto yang sekarang menjadi Gedung DPR.

Tahun 1963 Yayasan Pendidikan Umum Mojokerto mendirikan bangunan yang akan dipakai sebagai tempat kegiatan belajar bagi SMA Negeri Mojokerto di Desa Banjaragung yang lebih populer dengan sebutan Gatoel, sejak saat itu SMA ini juga populer dengan sebutan SMA Gotoel.
Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI No. 041 tahun 1974 tentang pembaharuan Pendidikan Dasar dan Menengah dengan ciri-ciri efektif, efisien, relevan, realistis, maka didirikanlah Sekolah Menengah Pembangunan Persiapan atau disebut orang dengan nama SMPP. Di 34 (tiga puluh empat) kota di Indonesia, Kabupaten Mojokerto salah satu kota yang mendapat kehormatan untuk didirikan SMPP tersebut.

Pengelolaan SMPP sepenuhnya diserahkan pada SMA Negeri 1 yang ada pada waktu itu yaitu SMA Negeri 1 Mojokerto yang ada di Gatoel. Sejak saat itu SMA Negeri 1 Mojokerto yang terkenal dengan nama SMA Negeri Gatoel menjadi SMPP Mojokerto yang memiliki dua gedung yang berlokasi di dua Kecamatan yang berbeda, di Kecamatan Puri dan Kecamatan Sooko.
Dalam perjalanan waktu dan demi pemerataan kesempatan belajar yang dicanangkan oleh pemerintah, di wilayah Mojokerto dibutuhkan SMA Negeri lagi untuk menampung putra daerah agar bisa menikmati kesempatan belajar pada jenjang Sekolah Menengah Umum Tingkat Atas didirikanlah SMA Negeri yang baru yaitu SMA Negeri 1 yang dulunya SMA Negeri Gatoel berubah menjadi SMPP kemudian kembali lagi menjadi SMA Negeri 1 Mojokerto pada tahun 1980. Tahun 1997 berganti nama menjadi SMU Negeri 1 Puri dan tahun 2004 populer dengan nama SMA Negeri 1 Puri sampai saat ini.

Visi, Misi, dan Tujuan Sekolah SMAN 1 Puri
Visi:Berdisiplin dalam belajar berprestasi, beriman, bertaqwa, berbudaya santun, berwawasan lingkungan sehat dan bersih, serta berkreasi dengan semangat mentari.

Indikator:

  1. Unggul dalam Pendidikan dan Tenaga Kependidikan.
  2. Unggul dalam Kurikulum.
  3. Unggul dalam Prestasi Intrakurikuler.
  4. Unggul dalam Prestasi Ekstrakurikuler.
  5. Unggul dalam Kelulusan.

Misi :
1. Menumbuhkan sekolah berbudaya mutu.
2. Memberdayakan seluruh SDM yang ada di sekolah secara optimal.
Menumbuhkan sikap disiplin, tertib, bersih, sehat, pada semua warga di sekolah.
3. Melaksanakan PBM / KBM secara efektif dan efisien.
4. Menciptakan wawasan lingkungan sehat dan bersih.

Tujuan Sekolah :

  1. Meningkatkan profesionalisme dan kinerja pendidik dan tenaga kependidikan dalam pelayanan prima pada pelanggan internal maupun ekternal.
  2. Mengembangkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan berbasis kecakapan hidup dengan memperhatikan dan mempertimbangkan kebutuhan peserta didik serta tuntutan masyarakan dan lingkungan
  3. Membantu membangkitkan segala potensi peserta didik dan membimbing dalam mengembangkan potensi yang ada dan menanamkan sikap kompetitif yang kooperatif dalam rangka menghadapi tantangan masa depanya dengan kegiatan pengembangan model-model pembelajaran yang inovati.
  4. Memenuhi sarana dan prasarana dalam pembelajaran serta memanfaatkan secara optimal.
  5. Meningkatkan kerja sama dengan masyarakat, alumi dan lembaga yang terkait guna memperoleh dukungan positif terhadap setiap program yang dicanangkan.

mojokerto.web.id

Sejarah SMAN 1 SOOKO

Posted by dephi in sman mojokerto on September 23rd, 2010 |  No Comments »

Seperti yang kita ketahui bahwa SMAN 1 Sooko  adalah salah satu sekolah senior di kabupaten Mojokerto, tepatnya berada di jalan R. Ajeng Basuni No. 361. SMAN 1 SOOKO atau yang lebih akrab disingkat SMANSASOO ini awal mulanya berdiri pada tahun 1960 oleh Bupati R. Ardi Sriwidjojo. Sekolah ini didirikan atas dorongan masyarakat Kabupaten dan kota Mojokerto yang dulu bernama SMA Negeri Mojokerto. Menurut sumber pada tahun ini kegiatan belajar mengajarnya di Balai Prajurit sebelah Timur Alun-alun ( sekarang menjadi gedung DPRD Kabupaten).

Tahun 1963, Sekolah menempati gedung baru di Bajar Agung Kecamatan Puri dekat daerah Gatoel Mojokerto. Gedung ini didirikan oleh Bupati dan beberapa tokoh masyarakat yang tergabung dalam Yayasan Pendidikan Umum. Di tempat inilah SMA Negeri Mojokerto dikenal dengan SMA Gatoel namun pada tahun 1972 berubah nama menjadi SMPP ( Sekolah Menengah Pembangunan Persiapan ) dengan tambahan segala fasilitas lengkapseperti Lab IPA, bengkel ketrampilan, Sanggar Seni yang ditempatkan pada lahan luas di Jl.RA Basuni 361 Kecamatan Sooko. Dengan fasilitas seperti ini maka kantor pusat dan Tata Usaha SMPP Mojokerto ditempatkan di Sooko, tapi SMA Mojokerto yang baru terbentuk itu sebagai filias SMPP Mojokerto. Tahun 1984 SMPP Mojokerto berganti nama menjadi SMAN 1 SOOKO , sedangkan SMA Negeri Mojokerto di daerah Gatoel berganti nama SMAN 1 PURI dan pada tahun 1994 SMAN 1 SOOKO diubah namanya menjadi SMUN 1 SOOKO hingga akhirnya tahun 1994 namanya berganti menjadi SMAN 1 SOOKO hingga sekarang.

mojokerto.web.id

Pemandian Air Panas

Posted by dephi in wisata mojokerto on September 23rd, 2010 |  No Comments »

Tempat wisata yang berjarak sekitar 32 kilometer dari Kota Mojokerto ini, Rasanya, jarak 30-40 kilometer itu tidak akan terasa lelah, apalagi bila pengunjung langsung menceburkan diri ke air panas atau air hangat di sana. Pemandian dan Padusan yang masuk dalam lokasi kawasan wana wisata Pacet, Kabupaten Mojokerto,  Jawa Timur yang berada di lereng Gunung Welirang.

Karena itu, udara di bantaran Sungai Dawuhan yang dikelola Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kabupaten Mojokerto itu, terlihat segar dan sangat alami. Pucuk-pucuk pinus bergoyang seolah berebut menyambut wisatawan.

Pemandian yang memiliki dua fasilitas dua pemandian air panas, satu kolam pemandian air hangat, dan dua kolam pemandian air dingin (satu kolam untuk dewasa dan satu kolam untuk anak-anak yang dangkal). Tiket masuknya juga tidak mahal yakni Rp5.000,00 per orang.

Setelah berenang di air dingin dan berendam di air panas atau hangat, pengunjung yang keluar dari pemandian akan dapat naik kuda menuju kawasan Tahura (Taman Hutan Rakyat) R Soeryo yang merupakan lokasi perkemahan (campink ground). Tarif naik kuda hanya Rp10.000,00 per satu atau dua anak.

Tidak hanya itu, di depan pemandian Padusan juga ada hutan yang sering digunakan makan ramai-ramai, sekedar bakar jagung, atau menikmati lupis ketan ireng khas Mojokerto yang hargnya Rp3.000,00 per mangkuk.

Bila semuanya selesai, pengunjung dapat mengakhiri wisata dengan melintasi pasar buah atau sayur segar di kawasan yang sempat menyimpan cerita kelam pada 11 Desember 2002, namun lokasi wana wisata Padusan kini sudah dijauhkan dari aliran sungai Dawuhan untuk mengurangi potensi bencana.

griyawisata.com

Kolam Segaran

Posted by dephi in wisata mojokerto on September 23rd, 2010 |  No Comments »

Kolam Segaran tak jauh dari Kecamatan Trowulan, tepatnya di Desa Trowulan Kabupaten Mojokerto, situs yang paling gampang untuk dikunjungi dari semua situs Majapahit yang terdapat di daerah ini, tepatnya 500 meter ke arah selatan dari Jalan Raya Propinsi Mojokerto Jombang. Merupakan kolam purba peninggalan pada masa Kerajaan Majapahit, 7 abad yang silam.

Minggu Siang yang terik ini saya berkesempatan berkunjung kesana, terlihat puluhan orang duduk di pinggir kolam raksasa atau yang biasa disebut Kolam Segaran, terlihat pancing yang mengarah ke kolam, dan bungkusan yang berisi umpan ikan, tak jarang diantara mereka rela datang subuh hanya untuk memancing atau menjala, walau ikan yang terdapat dikolam tidak begitu banyak.

Kabar burung yang beredar, terkadang diantara para pemancing/penjala ikan di Kolam Segaran ini, pernah menemukan piring dan sendok emas di dalam jaring. Sayangnya, ketika benda itu akan diambil tanpa lambaran ilmu, tiba-tiba lenyap. Mereka yakin, piring dan sendok emas itu benda gaib peninggalan Majapahit masa pemerintahan Prabu Hayam Wuruk. Kata nelayan setempat, sering sekali jaring yang mereka tebarkan ke kolam menyangkut benda keras. Ketika diangkat, ternyata piring dan sendok emas yang berkilau ditimpa rembulan.

Konon, pada masa pemerintahan Hayam Wuruk, Majapahit mengadakan pesta besar karena kedatangan duta dari Tiongkok, angkatan perang negeri Tartar. Raja menyuguhkan hidangan dengan perkakas dari emas, mulai nampan, piring sampai sendok. Para tamu puas dan menilai, Majapahit memang negara besar yang patur dihormati. Setelah pesta usai, sebelum para tamu pulang, Hayam Wuruk ingin memperlihatkan kekayaan kerajaan yang terkenal sebagai negeri gemah ripah loh jinawi. Semua perkakas dari emas itu dibuang ke Kolam Segaran, tempat dimana pesta itu dilangsungkan. Karena benda-benda itu terkubur begitu lama, keberadaannya dikuasai makhluk gaib. Untuk mengangkat harta karun itu bukan persoalan gampang karena harus berhadapan dengan lelembut yang menguasai benda-benda tersebut

Percaya atau tidak itu tergantung dengan anda, daripada pusing mikirin bongkahan atau cuilan emas, memang lebih baik berusaha untuk mendapatkan ikan yang besar, inilah pendapat beberapa pemancing yang dapat anda temui disana.

Menurut buku yang saya beli di Museum Balai Penyelamatan Arca (S7.559650 – E112.381480), Kolam Segaran, pertama kali ditemukan oleh Ir. Mac Lain Pont pada tahun 1926 ini yang berukuran panjang 375 meter, lebar 175 meter, tebal tepian 160 centimeter dengan kedalaman 288 centimeter, selalu dipenuhi air ketinggian 150 hingga 200 centimeter selama musim penghujan. Menggunakan konstruksi batu bata sebagai pembatas kolam, dan uniknya batu bata tersebut ditata sedemikian rupa tanpa perekat hanya digosok gosokan satu sama lainnya. Sumber air kolam didapat dari saluran air yang masuk kekolam dan air hujan. Diduga dulunya kolam ini juga berfungsi sebagai waduk dan penampung air, merupakan wujud kemampuan kerajaan Majapahit akan teknologi bangunan basah, para ahli memperkirakan kolam ini sama dengan kata “Telaga” yang disebutkan dalam kitab Negarakertagama.

navigasi.net

Candi Brahu

Posted by dephi in wisata mojokerto on September 23rd, 2010 |  No Comments »

Masih dalam komplek situs Kerajaan Majapahit di Trowulan, tak jauh dari Candi Gentong  yang masih dipugar S 07.54401  E 112.37789, anda bisa berkunjung di kawasan Candi Brahu. Letaknya di dukuh jamu mente, desa bejijong, atau sekitar 2 kilometer dari jalan raya mojokerto jombang. Candi yang dibangun dari batu bata merah ini, dibangun di atas sebidang tanah menghadap ke arah barat dan berukuran panjang sekitar 22,5 m, dengan lebar 18 m, dan punya ketinggian 20 meter.

Mengutip buku Mengenal Peninggalan Majapahit di Daerah Trowulan oleh Drs IG Bagus Arwana, dulu di sekitar candi ini banyak terdapat candi candi kecil yang sebagian sudah runtuh, seperti candi muteran, candi gedung, candi tengah, dan candi gentong. Saat penggalian dilakukan di sekitar candi, banyak ditemukan benda benda kuno macam alat alat upacara keagamaan dari logam, perhiasan dari emas, arca dan lain lainnya.

Candi ini dibangun dengan gaya dan kultur Budha, didirikan abad 15 Masehi. Pendapat lain, candi ini berusia jauh lebih tua ketimbang candi lain di sekitar Trowulan. Menurut buku Bagus Arwana, kata Brahu berasal dari kata Wanaru atau Warahu. Nama ini didapat dari sebutan sebuah bangunan suci seperti disebutkan dalam prasasti Alasantan, yang ditemukan tak jauh dari candi brahu. Dalam prasasti yang ditulis Mpu Sendok  pada tahun 861 Saka atau 9 September 939, Candi Brahu merupakan tempat pembakaran (krematorium) jenazah raja-raja Brawijaya. Anehnya dalam penelitian, tak ada satu pakarpun yang berhasil menemukan bekas abu mayat dalam bilik candi. Lebih lebih setelah ada pemugaran candi yang dilakukan pada tahun 1990 hingga 1995.

navigasi.net

candi tikus

Posted by dephi in wisata mojokerto on September 23rd, 2010 |  No Comments »

Sejak ditemukan pertama kalinya pada tahun 1914, kemudian sampai dilakukan pemugaran sekitar tahun 1983 – 1986, candi Tikus secara administratif terletak di dukuh Dinuk, Desa Temon, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, telah banyak mengundang perhatian para pakar sejarah kuno dan arkeologi untuk menentukan makna dan fungsi dari bangunan itu, baik dari segi arsitektural maupun ditinjau dari segi religius.

Konon, nama Candi Tikus diberikan lantaran ketika dilakukan pembongkaran pada tahun 1914, oleh Bupati Mojokerto R.A.A Kromojoyo Adinegoro, disekitar candi itu pernah menjadi sarang tikus, dan hama tikus ini menyerang desa disekitarnya, setelah dilakukan pengejaran kawanan tikus itu selalu masuk ke gundukan tanah, yang setelah dibongkar ditemukan sebuah bangunan terbuat dari bahan bata merah dan denah persegi empat dengan ukuran 29,5 m x 28,25 m.

Mengutip dari buku karangan Drs I.G. Bagus L Arnawa, secara pasti tidak diketahui kapan candi Tikus ini didirikan karena tidak ada sumber sejarah yang memberitakan tentang pendirian candi ini. Dalam kitab Nagarakertagama yang ditulis oleh Prapanca pada tahun 1365 M (yang telah diakui oleh para pakar sebagai suatu sumber sejarah yang cukup lengkap memuat tentang kerajaan Majapahit, khususnya pada masa pemerintahan raja Hayam Wuruk), tidak disebutkan tentang eksistensi candi ini.

Namun demikian, ini tidak berarti bahwa serangkaian penelitian yang ditujukan guna mencari dan menentukan saat dibangunnya candi Tikus ini lantas manjadi tidak bisa dilaksanakan. Setidaknya, berdasarkan kajian arsitektural, diperoleh gambaran perbedaan dalam hal penggunaan bahan baku candi, yaitu bata merah.

Adanya perbedaan penggunaan bata merah (baik perbedaan kualitas maupun kuantitasnya), memberikan indikasi tentang tahapan pembangunan candi Tikus. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan oleh para arkeolog, terbukti bahwa bata merah yang berukuran lebih besar berusia lebih tua dibandingkan dengan bata merah yang berukuran lebih kecil. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa selama masa berdiri dan berfungsinya, candi Tikus pernah mengalami dua tahap pembangunan. Pembangunan tahap pertama dilakukan dengan mempergunakan batu bata merah yang berukuran lebih besar sebagai bahan bakunya, sedangkan pembangunan tahap kedua dilakukan dengan mempergunakan bata merah yang berukuran lebih kecil.

Lain halnya dengan pendapat yang dikemukankan oleh N.J. Krom lewat buku “sakti”-nya yang berjudul Inleiding tot de Hindoe Javaansche Kunst II (Pengantar Kesenian Hindu Jawa). Dengan memperhatikan bahan dan gaya seni dari saluran air, pakar sejarah kesenian Jawa kuno berkebangsaan Belanda itu berasumsi bahwa ada dua tahap pembangunan candi Tikus.

Tahap pertama, saluran airnya terbuat dari bata merah dan memperlihatkan bentuknya yang kaku. Sedangkan tahap kedua saluran airnya terbuat dari batu andesit dan memperlihatkan bentuknya yang lebih dinamis serta dibuat pada masa keemasan Majapahit. Ini berarti pula bahwa menurut Krom, candi Tikus telah berdiri sebelum kerajaan Majapahit mencapai puncak keemasannya, yaitu pada masa pemerintahan Hayam Wuruk (1350 – 1380).

Sementara itu, ketika dilakukan pemugaran pada tahun 1984/1985, berhasil disingkap sisi tenggara bangunan candi Tikus. Kaki bangunan yang terdapat di sisi tersebut, menunjukan perbedaan ukuran bata merah yang dipergunakan sebagai bahan bakunya. Hal ini semakin memperkuat dugaan mengenai dua tahap pembangunan candi tersebut. Kaki bangunan tahap pertama yang tersusun dari bata merah yang berukuran besar, tampak ditutup oleh kaki bangunan tahap kedua yang tersusun dari bata merah yang berukuran lebih kecil. Kapan secara pasti pembangunan tahap pertama dan kedua ini dilakukan, belum jelas benar.

Adanya tangga yang menurun di sebelah utara, memberi kesan bahwa bangunan candi Tikus ini memang sengaja dibuat dibawah permukaan tanah. Tangga menurun disebelah utara itu, sekaligus merupakan petunjuk bahwa bangunan memiliki arah hadap ke utara. Dua buah kolam berbentuk persegi empat yang berukuran 3,5 x, 2 m dengan kedalaman 1,5 m, mengapit tangga masuk. Masing-masing kolam tersebut dilengkapi dengan tiga buah pancuran air yang berbentuk bunga padma (teratai) dan terbuat dari bahan batu andesit.

Pada sisi selatan teras terbawah terdapat sebuah bangunan berdenah persegi empat dengan ukuran 7,65 m x 7,65 m. Bangunan ini dianggap sebagai bangunan utama dari candi Tikus yang dilengkapi dengan 17 buah pancuran air yang berbentuk bunga padma dan makara. Pada bangunan induk tersebut, terdapat sebuah menara dan dikelilingi oleh 8 buah menara yang berukuran lebih kecil.

Susunan menara yang demikian itu telah menarik perhatian seorang Belanda yang bernama A.J. Bernet Kempers yang mengaitkannya dengan konsepsi religi. Dalam bukunya yang berjudul Ancient Indonesia Art, ia yang telah banyak berjasa dalam menyingkap masa pengaruh agama Hindu – Budha di Indonesia lewat kajian candi-candi yang mengatakan bahwa candi Tikus merupakan replika dari gunung Meru.

Gunung meru merupakan gunung suci yang dianggap sebagai pusat alam semesta yang mempunyai suatu landasan kosmogoni yaitu kepercayaan akan harus adanya suatu keserasian antara dunia dunia (mikrokosmos) dan alam semesta (makrokosmos). Menurut konsepsi Hindu, alam semesta terdiri atas suatu benua pusat yang bernama Jambudwipa yang dikelilingi oleh tujuh lautan dan tujuh daratan dan semuanya dibatasi oleh suatu pegunungan tinggi. Jadi Sangat mungkin Candi Tikus merupakan sebuah petirtaan yang disucikan oleh pemeluk Hindu dan Budha, dan juga sebagai pengatur debit air di jaman Majapahit.

Selain berfungsi sebagai pengatur debit air di kota, letaknya yang diluar kota itu memberi kesan bahwa sebelum masuk kota, air harus disucikan terlebih dahulu di candi Tikus. Dalam hal ini, jika bentuk bangunan candi Tikus dianggap sebagai manifestasi dari gunung Meru, maka setiap air yang keluar dari bangunan induk ini dipercaya sebagai air suci (amerta). Tak heran, bila kemudian air yang keluar dari candi Tikus juga dipercaya memiliki kekuatan magis untuk memenuhi harapan rakyat agar hasil pertanian mereka berlipat ganda dan terhindar dari kesulitan-kesulitan yang merugikan.

navigasi.net